Tujuan Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an

Kisah-kisah dalam Alquran bukanlah cerita tersendiri, melainkan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari isi Alquran sebagai suatu keseluruhan. Hal ini berarti bahwa makna dan manfaat serta tujuan kisah-kisah Alquran itu tidak dapat dilepaskan dari hakikat, manfaat dan tujuan Alquran.

Di dalam Alquran terdapat banyak ayat yang menjelaskan hakikat, manfaat dan tujuan diturunkannya Alquran itu kepada manusia. Alquran ini betul-betul merupakan firman Allah dan bukan dibuat oleh manusia atau setan, yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan merupakan ayat-ayat yang nyata. Alquran diturunkan tidak hanya untuk golongan tertentu, tetapi untuk seluruh manusia bahkan bagi semesta alam. Alquran berisi petunjuk, pelajaran, dan peringatan bagi manusia. Alquran berfungsi sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil dan juga sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman. Alquran itu mengandung berkah dan tidak bermaksud menyusahkan manusia.20)

Alquran telah mengisyaratkan bahwa terdapat beberapa tujuan dari penyebutan kisah-kisah dalam Alquran itu. Ia mengajak manusia untuk memperhatikan dan mengejawantahkannya ketika ia sedang membaca kisah-kisah itu, serta mencermati dan aktif berinteraksi dengannya.

Adapun tujuan kisah-kisah dalam Alquran yang nampak jelas di antaranya:

1. Ajakan agar manusia berpikir,

sebagaimana firman Allah Ta’ala ;

Artinya, “Maka ceritakanlah (kepada umatmu) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Al-A’raf : 176)21)

Mendengarkan kisah-kisah Alquran, merenungkan dan memperhatikannya, akan menggiring manusia untuk berpikir. Berpikir merupakan kerja akal di mana manusia mengaktifkan daya pikirnya dan mendayagunakan akalnya, lalu merenungkan episode-episode kisah yang memuat nasihat dan pelajaran.

Alquran menginginkan umat manusia untuk senantiasa berpikir dan mengambil pelajaran, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

Artinya: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad)…””(Saba’:46)22)

Sesungguhnya berpikir itu merupakan suatu kewajiban qur’ani, keharusan dalam Islam, dan keniscayaan hidup. Orang-orang yang tidak melaksanakan kewajiban ini dan menelantarkannya, mereka itu membuang percuma kenikmatan Tuhan yang telah dianugerahkan kepada mereka dan menyia-nyiakan potensi besar yang dikaruniakan Allah kepada mereka.

Berpikir, bernalar, dan mengambil pelajaran merupakan buah dari membaca kisah orang-orang dahulu yang ada dalam Alquran, hasil dari mendengarkan kisah-kisah Alquran, dan merupakan suatu tujuan mulia yang harus dituju oleh setiap orang yang membaca Alquran, mendengarkan atau mengisahkannya kepada para pendengar.

2. Sebagai peneguhan hati

sebagimana firman Allah ta’ala dalam surat Hud ayat 120

Artinya: “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)23)

Peneguhan hati atas kebenaran, superioritasnya dengan kebenaran atas semua kekuatan batil, rangsangannya terhadap apa yang ada di sisi Allah, keyakinannya akan janji Allah, tetapnya bersama tentara Allah, perlawanannya terhadap musuh-musuh Allah, konsistennya dengan manhaj (konsep/jalan hidup) ini sampai bertemu Allah, semua ini didapatkan oleh orang-orang mukmin dari kisah-kisah orang-orang dahulu dan kisah para rasul.

Ayat itu merupakan sebuah orasi kepada Rasulullah Saw. yang disebutkan setelah memaparkan kisah-kisah nabi Nuh, Hud, Sholeh, Ibrahim, Luth, Syu’aib, dan Musa dalam surat Hud.

Surat Hud diturunkan kepada Rasulullah Saw. pada masa krisis dan berat, termasuk masa-masa yang paling krisis yang dilalui dakwah Islam di Mekkah. Maka Rasul Saw. dan umat Islam bersamanya membutuhkan hiburan untuk membesarkan hati, menentramkan dan meneguhkan hati, lalu datanglah kisah nabi-nabi untuk mewujudkan tujuan Alquran yang mulia itu.

Sesungguhnya orasi dalam ayat ini adalah universal, mencakup umat Islam di mana saja berada dan ditujukan kepada setiap muslim di setiap zaman dan tempat, meskipun pada dasarnya ditujukan kepada Rasulullah, karena sebenarnya orasi yang ditujukan kepada Rasulullah juga merupakan orasi yang tertuju kepada setiap individu umatnya, selama tidak ada dalil yang menyatakan kekhususan orasi itu hanya untuk Rasulullah.

Umat Islam pada masa kini lebih membutuhkan realisasi tujuan Alquran ini dari kisah-kisahnya. Umat Islam juga lebih membutuhkan peneguhan hati melalui kisah-kisah Alquran, yaitu mewujudkan ketentraman hati, memantapkan posisinya pada jalan kebenaran, dan meneguhkan pendiriannya.

Umat Islam saat ini adalah orang-orang yang paling butuh terhadap hal ini karena banyaknya kendala, rintangan, dan godaan yang menjadi ciri khas zaman ini, karena sengitnya pertarungan antara hak dan batil, karena serangan gencar pengikut kebatilan untuk melawan tentara kebenaran, dan karena hilangnya eksistensi Islam yang nyata (empiris) yang terwujud dalam sebuah masyarakat, entitas (wujud), dan sistem kehidupan.

3. Pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

Tujuan berikutnya dari kisah-kisah adalah sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat ‘ibrah (pengajaran) bagi orang-orang yang berakal. Alquran bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111)24)

Di samping tujuan tujuan utama sebagaimana yang tersebut di atas, masih banyak tujuan lain dari penyebutan kisah-kisah dalam Alquran. Di antaranya, An-Nahlawi  menyebutkan beberapa tujuan dari kisah-kisah Alquran sebagai berikut:

  • Memantapkan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad Saw.
  • Menerangkan bahwa semua agama yang dibawa oleh para rasul dan nabi adalah datang dari Allah.
  • Menerangkan bahwa Allah akan menolong para utusan-Nya dan orang-orang yang beriman dan memberikan rahmat bagi mereka, serta menyelamatkan mereka dari kesulitan dan kesusahan. Dan menerangkan bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin semuanya adalah umat yang satu serta bahwasanya Allah Maha Esa yang menguasai segenap makhluk.
  • Sebagai penghibur bagi orang-orang yang beriman dari duka cita dan musibah yang mereka temui dan sebagai penetapan hati bagi Rasululah dan para pengikutnya serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman sebagaimana firman-Nya dalam surat Hud ayat 120

Artinya: “Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu;dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)25)

  • Menerangkan bahwa pada akhirnya Allah akan menolong nabi-nabinya dan menghancurkan orang-orang yang Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Ankabut yang berkaitan dengan seluruh kisah nabi, yang pada akhir setiap kisah disebutkan tentang adzab bagi orang-orang yang mendustakan para rasul dan selamatnya nabi-nabi yang diutus, seperti pada ayat 40 berbunyi:

Artinya: “ Maka  tiap-tiap (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang kami benamkan kedalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (Al-Ankabut: 40)26)

  • Di antara tujuan kisah dalam pendidikan Islam adalah untuk mengingatkan manusia akan bahaya setan yang menyesatkan,. Kisah ini juga mengingatkan akan permusuhan yang abadi sampai hari kiamat antara setan dan manusia. Dan mengajak manusia supaya waspada dari setiap kebimbangan dalam jiwa yang akan mengajak kepada kejahatan.
  • Dan di antara tujuan kisah-kisah yang bersifat kependidikan adalah untuk menjelaskan kekuasaan Allah Ta’ala, sebagai penjelasan untuk mempengaruhi kebimbangan dan rasa takut kepada Allah karena pendidikan.27)

REFERENSI :

 20) Nafron Hasjim., Op.Cit, hlm. 247.

 21) Depag RI., Op.Cit, hlm. 251.

 22) Ibid.,hlm.

 23) Ibid., hlm. 345.

 24) Ibid., hlm. 366.

25) Ibid., hlm. 345.

26) Ibid., hlm. 634.

 27) Abdurrahman An-Nahlawi., Ushulu- Tarbiyatil Islamiyyati Wa Asaalibiha fil-Baiti wal-Madrasati wal-Mujtama’i, Darul Fikr, Beirut, tt., hlm 241.

Leave a Reply

Your email address will not be published.